Senin, 30 Maret 2020

ENOUGH

      Ku lihat dirinya dari tempatku berpangku tangan. Terlalu berlebihan!. Suaranya, rambutnya, dan warna bola matanya, sungguh berbeda. Sedikit berlebihan dari Ed. Ya tentu, lebih tinggi darimu, punggungnya lebih kekar darimu dan lebih kaku dari padamu. Aku tahu kau adalah orang yang hangat, namun saudaramu tidak hangat sama sekali.

      Sudah setidaknya aku sedikit terbantu untuk mengenang dirimu ketika melihatnya. Iya dari jauh kulihatnya, seperti seorang yang ku kenal, sepeti Edsel yang lain. Sejujurnya Ed, ada rasa kelu ketika melihatnya tapi tidak sepertimu, Apakah ini yang mananya penyesalan?.

      Sebaiknya ku akhiri tatapanku terhadap dirinya, sebelum orang lain mengetahui dan mencurigaiku diriku yang menatap dirinya, Elfer, Bosku. Aku berkerja dengannya sudah setahun belakangan ini. Tak pernahku mencoba lebih akrab dengannya. Hanya Ed yang membuatku dekat dengannya karena peskerjaan di kantor ini. Itupun tidak  terduga dan tersengaja. Awalnya aku ditugaskkan untuk memantau proyek pemasaran produk perusahaan dengan seorang artis, dan Edsel ada disana sebagai fotografer dari perusahaan kami. Awalnya aku berfikir Edsel adalah Elfer si bos es ku itu. Tapi ku lihat lagi tingkahnya berbeda sekali, ku pikir bosku ini punya kepribadian ganda. Sampai aku ketahui dari  sesama karyawan di lapangan, bawah itu saudara kembar si bos. Layaknya juga Elfer, Edsel juga pekerja keras. Elfer juga sama namun ia terlalu keras, keras dalam mengambil keputusan, target, dan apapun itu. Jika dia belum cukup dia akan himpit terus samapai dia merasa puas. Yang harus di mengerti kami harus mengerjakan pekerjaan kami sampai ia merasa puas, merasa cukup dan sudah sempurna, tersempurna untuknya. Banyak sudah para pekerja sepertiku keluar, karena sikap dan ulah Elfer terhadap karyawannya. Terkecuali aku bertekad untuk bertahan semenjak kejadian itu, terjadi.

   

Minggu, 29 Maret 2020

SERATUS

      Seratus hari berlalu, tapi ingattan ini tidak mungkin berlalu. Rambut dan tubuhku berubah, tapi rasanya akan tetap sama. Seharusnya aku dan semua orang di dunia ini paham rasanya ingin  memilih sebuah pilihan. Tapi kini dunia hanya tempat fakta dan nilai. Dan aku masih tetap merindukan, dan rasa rindu ku ini bisa datang tiba-tiba. Edsel.

       Kau adalah manusia biasa dengan penuh belas kasih, hanya pria periang, dan teman bermain di sekolah dan seakan kebahagiaan selalu menyelimutimu. Karna itu aku seorang yang tumbuh subur dengan iri hati kepadamu Ed, ketika melihatmu tersenyum melewati kekacauan ini, dan lagi-lagi aku hanya orang yang mengenangmu sampai kini.

       Bagaimana bisa orang sepertimu meninggalkan dunia ini? Sepertinya semesta juga iri padamu. Juga selalu saja orang baik sepertimu begitu cepat tanpa aba-aba meninggalkanku lagi. Dan apakah aku tidak juga mendapatkan nilai yang cukup bagus, hingga semesta tidak iri padaku ?.

        Hari-hari akan terasa berlalu, nanti akan juga berlalu, sakit, duka, penyesalan, tetap akan ada hari baru? Sudahlah Edsel. Jangan lagi tersenyum dikepalaku. Kau tahu aku tak cukup hebat dengan semua hal ini, tapi aku cukup hebat dalam memilih sebuah keputusan, bukan? Maka dari itu, tenanglah, jangan usik jiwaku lagi. Dan aku masih saja  tetap mengenangnya dengan baik. Banyak orang pernah mengalami kehilangan. Entah kehilangan macam apa itu, tapi satu yang ku percaya. Setiap kehilangan akan menimbulkan kesedihan. Dan entah apakah juga orang lain memikirkan hal sama denganku terhadap dirimu. Jika benar begitu, aku tak sendirian menanggung semua beban mengenang dirimu. Namun jika tidak, apa sebaiknya aku yang akhiri saja. Bagaimana menurutmu Ed?, tentu saja, kau tetap hanya akan tersenyum tanpa memberi sebuah jawaban.

          Lewat selembar foto yang menjadikanku mengingat masa lalu, foto dirimu Ed. Kau tak akan pernah mengamali masa sepertiku disini Ed, yang kau tahu adalah tersenyum melihatku. Tak jauh berbeda dengan diriku Dia juga merindukan mu, Edsel.
Saudara kembarmu Elfer.