Ku lihat dirinya dari tempatku berpangku tangan. Terlalu berlebihan!. Suaranya, rambutnya, dan warna bola matanya, sungguh berbeda. Sedikit berlebihan dari Ed. Ya tentu, lebih tinggi darimu, punggungnya lebih kekar darimu dan lebih kaku dari padamu. Aku tahu kau adalah orang yang hangat, namun saudaramu tidak hangat sama sekali.
Sudah setidaknya aku sedikit terbantu untuk mengenang dirimu ketika melihatnya. Iya dari jauh kulihatnya, seperti seorang yang ku kenal, sepeti Edsel yang lain. Sejujurnya Ed, ada rasa kelu ketika melihatnya tapi tidak sepertimu, Apakah ini yang mananya penyesalan?.
Sebaiknya ku akhiri tatapanku terhadap dirinya, sebelum orang lain mengetahui dan mencurigaiku diriku yang menatap dirinya, Elfer, Bosku. Aku berkerja dengannya sudah setahun belakangan ini. Tak pernahku mencoba lebih akrab dengannya. Hanya Ed yang membuatku dekat dengannya karena peskerjaan di kantor ini. Itupun tidak terduga dan tersengaja. Awalnya aku ditugaskkan untuk memantau proyek pemasaran produk perusahaan dengan seorang artis, dan Edsel ada disana sebagai fotografer dari perusahaan kami. Awalnya aku berfikir Edsel adalah Elfer si bos es ku itu. Tapi ku lihat lagi tingkahnya berbeda sekali, ku pikir bosku ini punya kepribadian ganda. Sampai aku ketahui dari sesama karyawan di lapangan, bawah itu saudara kembar si bos. Layaknya juga Elfer, Edsel juga pekerja keras. Elfer juga sama namun ia terlalu keras, keras dalam mengambil keputusan, target, dan apapun itu. Jika dia belum cukup dia akan himpit terus samapai dia merasa puas. Yang harus di mengerti kami harus mengerjakan pekerjaan kami sampai ia merasa puas, merasa cukup dan sudah sempurna, tersempurna untuknya. Banyak sudah para pekerja sepertiku keluar, karena sikap dan ulah Elfer terhadap karyawannya. Terkecuali aku bertekad untuk bertahan semenjak kejadian itu, terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar