Minggu, 29 Maret 2020

SERATUS

      Seratus hari berlalu, tapi ingattan ini tidak mungkin berlalu. Rambut dan tubuhku berubah, tapi rasanya akan tetap sama. Seharusnya aku dan semua orang di dunia ini paham rasanya ingin  memilih sebuah pilihan. Tapi kini dunia hanya tempat fakta dan nilai. Dan aku masih tetap merindukan, dan rasa rindu ku ini bisa datang tiba-tiba. Edsel.

       Kau adalah manusia biasa dengan penuh belas kasih, hanya pria periang, dan teman bermain di sekolah dan seakan kebahagiaan selalu menyelimutimu. Karna itu aku seorang yang tumbuh subur dengan iri hati kepadamu Ed, ketika melihatmu tersenyum melewati kekacauan ini, dan lagi-lagi aku hanya orang yang mengenangmu sampai kini.

       Bagaimana bisa orang sepertimu meninggalkan dunia ini? Sepertinya semesta juga iri padamu. Juga selalu saja orang baik sepertimu begitu cepat tanpa aba-aba meninggalkanku lagi. Dan apakah aku tidak juga mendapatkan nilai yang cukup bagus, hingga semesta tidak iri padaku ?.

        Hari-hari akan terasa berlalu, nanti akan juga berlalu, sakit, duka, penyesalan, tetap akan ada hari baru? Sudahlah Edsel. Jangan lagi tersenyum dikepalaku. Kau tahu aku tak cukup hebat dengan semua hal ini, tapi aku cukup hebat dalam memilih sebuah keputusan, bukan? Maka dari itu, tenanglah, jangan usik jiwaku lagi. Dan aku masih saja  tetap mengenangnya dengan baik. Banyak orang pernah mengalami kehilangan. Entah kehilangan macam apa itu, tapi satu yang ku percaya. Setiap kehilangan akan menimbulkan kesedihan. Dan entah apakah juga orang lain memikirkan hal sama denganku terhadap dirimu. Jika benar begitu, aku tak sendirian menanggung semua beban mengenang dirimu. Namun jika tidak, apa sebaiknya aku yang akhiri saja. Bagaimana menurutmu Ed?, tentu saja, kau tetap hanya akan tersenyum tanpa memberi sebuah jawaban.

          Lewat selembar foto yang menjadikanku mengingat masa lalu, foto dirimu Ed. Kau tak akan pernah mengamali masa sepertiku disini Ed, yang kau tahu adalah tersenyum melihatku. Tak jauh berbeda dengan diriku Dia juga merindukan mu, Edsel.
Saudara kembarmu Elfer.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar